BAIT-BAIT PERLAWANAN
Oleh: Yatri 

Dari dinding-dinding puisi sampah
Tercipta daur ulang serat-serat asa
Yang menampar keras relung nadi
Bahwasanya jangan mengibarkan bendera putih
Dalam realita bait-bait perlawanan

Kini saatnya bangkit siapkan amunisi 
Pasang siaga mata-mata batin
Untuk bersuara lantang di pencakar republik
Di mana penghuninya tidur dalam selimut kemunafikan

Hei lantai eksekutif
Jangan lupa bangun menghitung dosa
Terkait sisi khianatmu yang mengembang
Pada mulut manismu gula-gula kopi
Yang menjadi ampas ketika duduk di singgasana

Hei lantai parlemen
Jangan lupa cuci otak nurani
Terkait tidurmu yang menghitung gaji
Perancang ayat-ayat omnibus setan
Yang sigap mengamputasi kaki-kaki jelata

Hei lantai yudikatif
Jangan lupa kembali belajar Pancasila
Terkait palu hijaumu yang pilih kasih
Yang meringankan vonis-vonis koruptop
Dan memberatkan vonis-vonis orang-orang tak punya

Hei lantai senjata
Jangan lupa pakai teropong
Untuk melihat ketidakadilan
Agar kau tahu di mana kakimu berpijak
Antara membela minoritas
Atau menjadi tameng pejabat feodal

Hei lantai media
Jangan lupa kode jurnalis
Agar kau tak tersesat
Menulis narasi pencitraan dan narasi realita

Hei lantai komunitas
Jangan lupa membaca anggaran rumah tangga
Agar kau tetap kokoh dalam bersuara
Dan tidak menjadi kader pengecut
Dalam menghadapi senioritas yang lupa diri

Hei lantai universitas
Jangan lupa bunyi undang-undang dasar empat lima
Agar kau tidak membatasi ruang gerak mahasiswa
Dengan intimidasi surat DO
Yang menjadikan mereka sebagai sarjana bungkam

Dan kini puisi-puisi perlawanan tetap abadi
Yang takkan bersembunyi dari perang
Sebelum kata menang itu ada
Dalam rumah tinta kertas pembangkang

Jayapura, 17-07-20

Posting Komentar

0 Komentar